Makna 1 Muharram
 |
| 01 Muharram 1437 H |
Assalamualaikum Wr.Wb,,
disini saya akan
membahas makna 1 muharram atau tahun baru islam. 1 muharram identik
dengan peristiwa hijrah nabi, silakan membaca, semoga dapat hikmahnya,,
Peristiwa Hijrah dan Perkembangan Islam
Sekedar mengingatkan, bahwa Tahun Hijriah atau Tahun Baru Islam, bukan
dimulai dari tahun lahirnya Nabi Muhammad SAW, tapi tahun saat beliau
hijrah (pindah) atau mengungsi dari Kota Mekah ke Madinah, karena mau
dibunuh oleh orang-orang kafir Quraish saat itu.
Berbicara
tentang perkembangan Islam, tentu tidak bisa lepas dari peristiwa hijrah
Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Dakwah Nabi di Makkah pada saat itu
banyak mengalami rintangan berupa tantangan dan ancaman dari kaum
musyrikin dan kafir Quraisy.
Selama kurun waktu 12 tahun sejak
Nabi diutus, dakwah Rasulullah tidak mendapat sambutan menggembirakan,
bahkan sebaliknya banyak menghadapi terror, pelecehan, hinaan, dan
ancaman dari kaum musyrikin dan kafir Quraisy yang dikomandani oleh
paman Nabi sendiri, yaitu Abu Lahab.
Karena itu, Rasulullah
diperintahkan Allah SWT untuk pindah (hijrah). Akhirnya, beliau
meninggalkan kota kelahiranya Mekah, berhijrah ke kota Madinah. Di
Madinah, Nabi dan para sahabat Muhajirin mendapat sambutan hangat oleh
kaum Anshar (penduduk asli Madinah).
Agama Islam pun mengalami
perkembangan amat pesat. Dalam kurun waktu relatif singkat, hanya
sekitar 8 tahun, suara Islam mulai bergema ke seluruh penjuru dunia dan
Islam pun berkembang meluas ke seluruh pelosok permukaan bumi. Karena
itu tidak mengherankan jika peristiwa hijrah merupakan titik awal bagi
perkembangan Islam dan bagi pembentukan masyarakat Muslim yang telah
dibangun oleh Rasulullah SAW.
Menurut para pakar sejarah,
masyarakat Muslim, kaum Muhajirin dan Anshar, yang dibangun Rasulullah
SAW di Madinah merupakan contoh masyarakat ideal yang patut ditiru,
penuh kasih sayang, saling bahu-membahu dan lebih mengutamakan
kepentingan umum daripada kepentingan peribadi. Karena itu, tidak
mengherankan jika Khalifah Umar bin Chatab menjadikan peristiwa hijrah
sebagai awal perhitungan tahun baru Islam, yang kemudian dikenal dengan
Tahun Baru Hijriah,
Allah berfirman,“Hai manusia, sesungguhnya
kami menciptakan kalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan dan
menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kalian
saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di
sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu” (Al-Hujurat
ayat 13)
Umat manusia kadang-kadang terjebak kepada sesuatu yang
bersifat jangka pendek, dan melupakan yang bersifat jangka panjang
bahkan yang abadi selama-lamanya. Manusia sering tergesa-gesa dan ingin
cepat berhasil apa yang diinginkannya, sehingga tidak sedikit yang
menempuh jalan pintas, termasuk korupsi misalnya. Islam menekankan bahwa
hidup ini adalah perjuangan dan dalam berjuang pasti banyak tantangan
dan rintangan. Hidup di dunia adalah sebagai jalan untuk menuju
kehidupan Akhirat.
Hikmah dari Peristiwa Hijrah Nabi
Beberapa hikmah yang dapat dipetik dari Hijrahnya Nabi dan para sahabat dari Mekah ke Madinah saat itu adalah:
Pertama: perisitwa hijrah Rasululah dan para sahabatnya dari Mekah ke
Madinah merupakan tonggak sejarah yang monumental dan memiliki mkjna
yang sangat berarti bagi setiap Muslim, karena hijrah merupakan tonggak
kebangkitan Islam yang semula diliputi suasana dan situasi yang tidak
kondusif di Mekah menuju suasana yang prospektif di Madinah.
Kedua: Hijrah mengandung semangat perjuangan tanpa putus asa dan rasa
opimisme yang tinggi, yaitu semangat berhijrah dari hal-hal yang buruk
kepada yang baik, dan hijrah daru hal-hal yang baik ke yang lebih baik
lagi. Rasulullah s.a.w. dan para sahabatnya telah melawan rasa sedih dan
takut dengan berhijrah, meski harus meninggalkan tanah kelahiran, sanak
saudara
dan harta benda mereka.
Ketiga: Hijrah mengandung
semangat persaudaraan, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW
pada saat beliau mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dengan kaum
Anshar, bahkan beliau telah membina hubungan baik dengan beberapa
kelompok Yahudi yang hidup di Madinah dan sekitarnya pada waktu itu.
Dalam konteks sekarang ini, pemaknaan hijrah tentu bukan selalu harus
identik dengan meninggalkan kampung halaman seperti yang dilakukan oleh
Rasulullah s.a.w. dan kaum Muhajirin, tetapi pemaknaan hijrah lebih
kepada nilai-nilai dan semangat berhijrah itu sendiri, karena hijrah
dalam arti seperti ini tidak akan pernah berhenti.
Dalam sebuah
riwayat dikisahkan, ada seorang yang mendatangi Rasulullha dan berkata:
“Wahai Rasulullah,saya baru saja mengunjungi kaum yang berpendapat bahwa
hijrah telah telah berakhir”, Rasulullah bersabda: ”Sesungguhnya hijrah
itu tidak ada hentinya, sehingga terhentinya taubat, dan taubat itu
tidak ada hentinya sehingga matahari terbit darisebelah barat”.
Merupakan Bukti Maha Adilnya Allah
Berbeda dengan tahun Masehi, permulaan hari atau pergantian hari bukan
di pagi hari atau jam 00.01, tetapi di saat terbenamnya matahari atau
munculnya bulan. Itulah sebabanya Tahun Masehi (dari Isa Al Masih) dalam
Islam disebut Tahun Syamsyiah (matahari), sedangkan Tahun Hijriah atau
Tahun Islam disebut juga Tahun Qomariah (bulan). Kalau Tahun Masehi,
setiap bulan terdiri dari 30 hari atau 31 hari, kecuali Februari yang 28
atau 29 hari, tetapi bulan Hijriah terdiri dari 29 dan 30 hari.
Itulah sebabnya, terdapat selisih sekitar 10-12 hari setiap tahun, ada
pergeseran kegiatan keagamaan Islam pada tahun Masehi. Sebagai contoh,
hari raya Idul Fitri atau 1 Syawal pada tahun 2010 jatuh pada tanggal 10
September, tapi pada tahun 2009, Idul Fitri bersamaan dengan 22
September. Sehingga tidak heran kalau ada saatnya dimana tahun baru
Islam (1 Muharam) hampir bersamaan dengan Tahun Baru Masehi (1 Januari).
Dengan perbedaan antara bulan Hijriah dengan bulan Masehi itu, maka
bulan Ramadhan atau bulan Puasa setiap tahun bergeser sekitar 10-12 hari
setiap tahun Masehi, sehingga suatu saat bulan Ramadhan bersamaan
dengan bulan Juni, dan ada saatnya tahun kemudian puasa dilaksanakan
bulan Desember.
Berbeda dengan Indonesia dan Negara-negara
tropis, hampir tidak ada perbedaan lamanya berpuasa untuk sepanjang
tahun, yaitu bulan Januari s/d Desember berpuasa sekitar 14 jam (jam 4
pagi sampai 18.00), tapi di Negara-negara yang mengalami empat musim
seperti di Eropa dan Amerike Serikat dan Kanada, juga Australia dan
Selandia Baru, lamanya berpuasa sangat bervariasi.
Sebagai contoh
bila bulan puasa bertepatan dengan bulan Juni atau Musim Panas di
Eropa, maka penduduk yang tinggal di belahan bumi Bagian Utara akan
berpuasa sampai 18-20 jam, mulai jan 02 dinihari (Imsyak) sampai jam
22.00 malam baru berbuka, karena matahari baru terbenam.
Keadaan
sebaliknya yang dialami oleh penduduk di belahan Bumi Bagian Selatan
seperti Australia dan Selandia Baru. Karena bulan Juni adalah Musim
Dingin (Winter), maka waktu Imsyak sekitar jam 6.00 pagi dan waktu
Magrib sekitar jam 16.00 sore, sehingga mereka hanya berpuasa sekitar 10
jam saja.
Keadaan sebaliknya terjadi bila bulan Desember, maka
umat islam yang tinggal di belahan bumi Bagian Utara berpuasa lebih
singkat, dan sebaliknya yang di belahan Selatan lebih lama (berbanding
terbalik). Sedangkan pada bulan Maret dan September dimana matahari
persis ada di Khatulistiwa, kaum Muslimin di belahan Utara dan Selatan
berpuasa dengan jumlah jam yang sama, sekitar 12 jam.
Disitulah
salah satu bukti betapa adilnya Allah, di daerah dekat Equator
(Khatulsitiwa) seperti Indonesia, Malysia dan Negara-negara Arab dimana
umat Islam terbesar ada di sana atau daerah Sub Tropis, fluktuasi
lamanya berpuasa setiap tahun hampir tidak berbeda banyak.
Seandainya, bulan Ramadhan ditetapkan berdasarkan bulan Masehi, misalnya
bulan Juni, kasihan umat Muslim di bagaian Utara yang harus puasa
sampai 18-20 jam dengan temparatur sangat panas di atas 50 derajat C,
setiap tahun seperti itu, dan orang di belahan Selatan puasanya sangat
singkat. Kan sangat tidak adil?. Untungnya Tuhan Maha Adil, sehingga
penentuna bulan puasa berdasarkan Tahun Hijriah. bukan Tahun Masehi,
Allahu Akbar.
Introspeksi Diri atau Bermuhasabah
Dengan memasuki tahun baru Hijriah, kita akan memasuki 1 Muharram. Yang
berarti kita akan meninggalkan tahun lalu, dan memasuki tahun baru ,
yakni tahun baru 1431 Hijriah. Penyambutan tahun baru ini tidak
selayaknya seperti yang dilakukan orang-orang non Muslim saat merayakan
tahun baru Masehi, tetapi merayakannya sesuai dengan yang dicontohkan
Rasulullah SAW.
Sekarang kita masih hidup, tetapi siapa tahu
besok atau lusa atau minggu depan atau bulan depan atau tahun depan,
kita akan mati. Sekarang kita masih dapat menikmati tahun baru Hijriah,
tetapi siapa tahu tahun depan kita sudah tidak ada?.
Berbahagialah bagi mereka yang memperoleh nikmat umur yang panjang dan
mengisinya dengan amalan-amalan yang baik dan perbuatan-perbuatan yang
bijak. Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah orang yang
panjang umurnya dan baik amalannya (HR Ahmad)
Dalam menyambut
tahun baru Hijriah, sangat penting bagi kita untuk berkaca diri, menilai
dan menimbang amalan-amalan yang telah kita perbuat dan dosa atau
maksiat yang telah kita kerjakan. Penilaian ini bukan hanya untuk
mengetahui seberapa besar perbuatan amal atau dosa kita, tapi agar tahun
mendatang lebih baik dengan memperbanyak ibadah dan amal saleh serta
mengurangi perbuatan dosa dan amal salah.
Kisah Tentang Sahabat Umar bin Khatab tentang Umur Manusia
Adalah satu riwayat yang menceritakan tentang anak Umar bin Khatab,
kembali pulang dari sekolahnya sambil menghitung tambalan-tambalan yang
melekat di bajunya yang sudah usang dan jelek. Dengan rasa kasihan Umar
sang Amirul Mukminin (Pemimpin Kaum Musliminn), sebagai ayahnya mengirim
sepucuk surat kepada bendaharawan negara, yang isinya minta agar beliau
diberi pinjaman uang sebanyak 4 dirham, dengan jaminan gajinya bulan
depan supaya dipotong.
Kemudian bendaharawan itu mengirim surat
balasan kepada Umar, yang isinya demikian : “Wahai Umar, apakah engkau
telah dapat memastikan bahwa engkau masih hidup sampai bulan depan?.
Bagaimana kalau engkau mati sebelum melunasi hutangmu? Membaca surat
bendaharawan itu, maka seketika itu juga Umar tersungkur menangis, lalu
beliau menasehati anakanya dan berkata : “Wahai anakku, berangkatlah ke
sekolah dengan baju usangmu itu sebagaimana biasanya, karna akau tidak
dapat memperhatikan umurku walaupun untuk satu jam” Sungguh, batasan
umur manusia tidak ada yang mengetahuinya, kecuali hanya Allah SWT
semata.
Oleh karena keterbatasan tersebut, dan karena rahasia
Allah SWT semata, maka marilah kita pergunakan kesempatan hidup ini
dengan meningkatkan taqwa kita kepada-Nya dan menambah semangat beramal
ibadah yang lebih banyak lagi.
Bulan Muharram Termasuk Bulan Haram
Bagaimanakah pandangan Islam mengenai awal tahun yang dimulai dengan
bulan Muharram? Ketahuilah bulan Muharram adalah bulan yang teramat
mulia, yang mungkin banyak di antara kita tidak mengetahuinya. Namun
banyak di antara kaum Muslimin yang salah kaprah dalam menyambut bulan
Muharram atau awal tahun. Silakan simak pembahasan berikut.
Dalam
agama ini, bulan Muharram, merupakan salah satu di antara empat bulan
yang dinamakan bulan haram. Lihatlah firman Allah Ta’ala berikut.
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي
كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا
أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوام
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan,
dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di
antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus,
maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.”
(QS. At Taubah: 36)
Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak
penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan
berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang
lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ
muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan
satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu
tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perputaran dan munculnya
bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari seba
Mengapa Disebut Bulan Haram
Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Al Qodhi Abu
Ya’la rahimahullah mengatakan, “Dinamakan bulan haram karena dua makna.
Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.
Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram
lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan
tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan
amalan ketaatan
Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik
untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka
untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan,
“Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.”
Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Allah mengkhususkan empat bulan tersebut
sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada
bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang
dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.
Bulan Muharram adalah Syahrullah (Bulan Allah)
Suri tauladan dan panutan kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada
syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling
utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.
Bulan Muharram
betul-betul istimewa karena disebut syahrullah yaitu bulan Allah, dengan
disandarkan pada lafazh jalalah Allah. Karena disandarkannya bulan ini
pada lafazh jalalah Allah, inilah yang menunjukkan keagungan dan
keistimewaannya.
Perkataan yang sangat bagus dari As Zamakhsyari,
kami nukil dari Faidhul Qodir (2/53), beliau rahimahullah mengatakan,
“Bulan Muharram ini disebut syahrullah (bulan Allah), disandarkan pada
lafazh jalalah ‘Allah’ untuk menunjukkan mulia dan agungnya bulan
tersebut, sebagaimana pula kita menyebut ‘Baitullah’ (rumah Allah) atau
‘Alullah’ (keluarga Allah) ketika menyebut Quraisy. Penyandaran yang
khusus di sini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini
menunjukkan adanya keutamaan pada bulan tersebut.
Bulan Muharram
inilah yang menggunakan nama Islami. Nama bulan ini sebelumnya adalah
Shofar Al Awwal. Bulan lainnya masih menggunakan nama Jahiliyah.. Bulan
ini adalah seutama-utamanya bulan untuk berpuasa penuh setelah bulan
Ramadhan. Adapun melakukan puasa tathowwu’ (puasa sunnah) pada sebagian
bulan, maka itu masih lebih utama daripada melakukan puasa sunnah pada
sebagian hari seperti pada hari Arofah dan 10 Dzulhijah. Inilah yang
disebutkan oleh Ibnu Rojab. Bulan Muharram memiliki keistimewaan
demikian karena bulan ini adalah bulan pertama dalam setahun dan pembuka
tahun.”
Semoga Bermanfaat
Wassalamualaikum. Wr.Wb
SUMBER : https://www.facebook.com/permalink.php?id=126883690798694&story_fbid=129280833892313